Jumat, 14 Juli 2017

Danau Tanralili, Ranu Kumbolonya Sulawesi Selatan


Nama Ranu Kumbolo pasti sudah tidak asing lagi bagi para pecinta alam/jalan-jalan. Tapi belum banyak yang tahu tentang Danau Tanralili. Saya bukan pecinta gunung/pendakian, tapi kalau laut, yesss :) Awalnya ke Danau Tanralili-Lembah Lohe juga karena penasaran mengapa ada teman yang suka sekali capek-capek mendaki dan akhirnya harus turun lagi :D 

Danau Tanralili ini terletak di lereng Gunung Bawakaraeng, yang letaknya di Dusun Lengkese, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Jaraknya dari pusat kota Makassar sekitar 60an km. Konon, kata bawakaraeng memiiki arti sendiri, "bawa" artinya mulut dan "karaeng" artinya tuhan, jadi bawakaraeng artinya adalah mulut tuhan dan katanya gunung ini sering menjadi pertemuan para wali. Nama Tanralili sendiri berasal dari kata "tenri" dan "lili" yang artinya tidak dapat ditundukkan. Menurut penduduk setempat, Danau Tanralili ini awalnya terbentuk akibat longsoran Gunung Bawakaraeng di sekitar tahun 2004. Longsoran tersebut menimbulkan cekungan yang cukup dalam sehingga terbentuklah danau ini dan Lembah Lohe adalah lembah yang tersembunyi yang berada di antara Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang yang letaknya berdekatan dengan Danau Tanralili.

Jadiiii.. pada suatu sabtu yang cerah, saya dan teman-teman berjumlah total 20 orang berangkat dari Makassar jam 11 siang naik motor dan akhirnya sampai di Dusun Lengkese jam 1.30 siang. Setelah merenggangkan badan sebentar pasca naik motor, jam 2 kami memulai pendakian. Silahkan menebak saya yang mana di gambar ini (ga penting :D). Sepanjang perjalanan ditemani oleh lagu-lagu dari Payung Teduh, yang ntah mengapa saya merasa passs sekali untuk dibawa pendakian begini. 




Pasukan Tanralili-Lembah Lohe

30 menit pertama pendakian itu rasanya seru, setelah itu mulailah dengan pendakian yang sesungguhnya. Jujur awalnya saya mau balik saja mumpung belum jauh, tapi karena gengsi penasaran dengan apa yang ada di ujung sana, plus karena teman2 perjalanan yang asik, akhirnya saya melanjutkan pendakian. Bonus awalnya adalah takjub dengan pemandangan di sekeliling. Hening, sunyi, hijau...



Perjalanan Menuju Danau Tanralili

Finallly, we arrive there at 5 pm. So, this is the feeling being up there. Actually it's not about the peak, but about the journey/process. Langsung lupa rasa capeknya. Rasanya teduh dan damai...



Danau Tanralili
Tidak membutuhkan filter/edit untuk menangkap pemandangan yang sudah bagus. Begitu sampai, para lelaki tangguh itu langsung memasang tenda, membereskan perlengkapan dan memasak, dan kami para wanita menyemangati mereka #ehh. Menu camping seperti biasa adalah mie instan, telur, ikan kalengan, kopi dan teh bungkusan, menemani bincang-bincang seru kami di malam itu. Semakin malam, ternyata semakin ramai orang datang dan camping disana. Akhirnya jam 11 malam kami kembali ke tenda masing-masing untuk tidur, mempersiapkan fisik untuk pendakian esoknya. Ternyataaaa... makin malam dinginnya makin menusuk, alhasil yang dilakukan hanyalah menutup mata tapi tidak tertidur, malah ikut bernyanyi dalam hati lagu yang dinyanyikan oleh tenda sebelah :D

Keesokan harinya, jam 6 pagi, semua sudah bangun, namun yang memutuskan untuk ikut mendaki Lembah Lohe hanya 10 orang berhubung katanya medannya lebih sulit daripada ke Tanralili. Tentu saja karna saya gengsi penasaran dengan Lembah Lohe, saya tetap ikut. Kami mulai berangkat jam 7 pagi dan jrenggggg... Baru 10 menit pertama sudah terasa pendakiannya. Jalannya lebih terjal, berbatu, sempit, dan kiri kanan jurang. 

Perjalanan Menuju Lembah Lohe

Namun banyak pemandangan menarik sepanjang perjalanan menuju kesana. ada danau merah, konon danau ini berwarna merah karena daun2 yang berguguran disana jatuh ke danau dan menyebabkan warna merah, dan hutan lumut.


Di Danau Merah

Akhirnya jam 9.30 sampai di Lembah Lohe. Sama sekali tidak menyesal memutuskan ikut ke tempat ini. Begitu sampai, ternyata ada beberapa tenda kami jumpai di sana. Ternyata ada juga yang camping di sana. Tidak sanggup membayangkan bagaimana cara mereka membawa perlengkapan berat untuk mendaki ke atas. Kalau dalam bahasa Makassar "menyerah kaaa" hehe. Salutttttttt! Oia, Lembah Lohe ini ditutupi oleh rumput, lumut dan tanaman (ntah apa namanya) dan dikelilingi oleh tebing serta kabut. Sejuk dan segar...




Di Lembah Lohe



Bersama Rombongan di Lembah Lohe

Kami disana selama 1 jam, dan akhirnya kembali ke Tanralili dan bersiap untuk pulang. Cuaca mulai mendung dan benar saja, hujan deras menemani kami pulang seolah-olah ingin mengingatkan kami agar jangan melupakan semua kesan perjalanan ini...


Minggu, 30 Oktober 2016

Pulau Lanjukang, Kekayaan Kota Makassar yang Tersembunyi

Hah, Lanjutkan? Oh.. Langsungkan? Bukan... namanya Pulau Lanjukang.Yaa, tidak banyak memang yang tau soal pulau ini. Bahkan, penduduk Makassar saja banyak yang baru mendengarnya. Wajar saja, jarak pulau yang jauh dari kota Makassar, sekitar 3 jam perjalanan laut, ditambah tidak ada transportasi umum ke pulau ini membuat pulau ini "kurang terdengar" dibandingkan dengan pulau lainnya yang sudah populer di Sulawesi Selatan, sebut saja Pulau Liukang Loe, Selayar, atau Pantai Bara, Bira dsb. Tapiiiiii... soal lautnya, bisa diadu ;)

Dannnnn tepatnya 17 Agustus 2016, ya 2 bulan yang lalu, saya bersama teman-teman backpacker merayakan hari kemerdekaan disana. Sekitar 30 orang muda mudi dalam 1 kapal berlayar kesana. Sebenarnya sudah dari tahun lalu ingin kesana tapi baru ini dapat kesempatan, dan dengan biaya Rp125.000 saja kita sudah dapat makan siang, minum, dokumentasi dan tiket pulang pergi kapal :D yeayyyy.

Okeee, jadi kami berangkat jam 8.30 dari pelabuhan Paotere dan sampai disana sekitar jam 11.30. 3 jam di kapal ngapain??? Kamu bisa cerita panjang lebarrrrr dan tidur. Kenapaaaa?? Yahhh, kamu bisa menikmati pembicaraan dengan teman di menit2 awal aja karena harus beradu suara dengan mesin kapal plus ayunan ombak yang aduhai. Oia, di pulau ini tidak ada sinyal 3G apalagi 4G, jadi mending matikan data jadi bisa menghemat baterai.

Setibanya disana, kita langsung mengucap. Well,  i've visited many islands in this province but this is the winner. Juaraaaaa birunya. Ga usah berlama2, selesai makan siang express kita langsung buru-buru ga sabar mau bermain air.
Pantainya Pulau Lanjukang

Batang pohon mati yang banyak ditemukan di Lanjukang

Foto-foto ini hanya diambil dengan kamera hp, no edit no filter. Asli bagusnya! Oia, disini ada mercusuar setinggi sekitar 30 m yang sudah tidak digunakan lagi dan kita bisa naik ke atasnya dan melihat indahnya lanjukang dari atas.
Mercusuar tua
Pemandangan dari atas Mercusuar

Pulau ini pulau yang berpenghuni. Ada keunikan dari penduduk asli pulau ini yaitu berbadan pendek dan bungkuk dengan tinggi sekitar 1,2 m. Ini dikarenakan perkawinan sedarah yang terjadi di pulau ini. Yahhh, dengan membayangkan jauhnya pulau ini dari kota Makassar, hal ini bisa terjadi. Tapi terlepas dari itu, mereka ramah dan baik koq.

Dannnn, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 wita, sudah saatnya kembali, besok masih harus masuk kantor. Sebelum pulang, belum sah rasanya kalau belum mengibarkan bendera merah putih di hari kemerdekaan ini.
Merah Putih selalu di dada

Itu dia sekilas perjalanan ke Pulau Lanjukang. Birunya serasa memanggilmu kembali...